Jumat, 31 Oktober 2014

PENDUGAAN HERITABILITAS

PENDUGAAN HERITABILITAS

Abtraksi
Praktikum pendugaan heritabilitas yang dilaksanakan pada hari rabu tanggal 13 November 2013 di Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui nilai heritabilitas dari tanaman jagung (Zea mays) dan tomat (Solanum lycopersicum), serta mengetahui informasi mengenai variasi genetik dan heretabilitas sifat-sifat penting pada tanaman. Pada praktikum ini, disediakan data sekunder dari tanaman jagung dan tomat kemudian diolah agar diketahui nilai heritabilitasnya. Heritabilitas menggambarkan tingkat ketepatan seleksi terhadap genotip suatu tanaman yang dilihat berdasarkan kenampakan luar (fenotip) suatu tanaman. Heritabilitas dapat didefinisikan sebagai bagian keragaman genetik dari keragaman total (keragaman fenotip). Pada praktikum ini, diketahui bahwa populasi tanaman jagung belum bisa dijadikan sebagai landasan dalam seleksi karena rendahnya nilai heritabilitas yang hanya mencapai 30% dari 3 parameter yakni panjang, diameter dan tinggi tongkol, sedangkan untuk populasi tanaman tomat, diketahui mempunyai nilai heritabilitas yang relatif tinggi lebih dari 50%, baik dalam arti luasmaupun sempit dan pada arti luas nilai heretabilitasnya bahkan mencapai 90%.

SIMULASI SELEKSI PADA POPULASI TANAMAN MENYERBUK SILANG

I.              PENDAHULUAN

a.    Latar Belakang
Analisis genetik penting bagi pemulia tanaman dalam pengembangan varietas baru dan mencari varietas-varietas unggul. Suatu varietas tanaman baru yang dikembangkan oleh pemulia tanaman merupakan modifikasi dari suatu populasi. Pengertian tentang susunan genetik populasi dan kekuatan yang mengubah frekuensi gen berguna dalam mempertahankan suatu konsentrasi gen yang diinginkan. Pada awal 20, Yule menyatakan bahwa alel dominan, tidak peduli frekuensi awal dalam populasi, akan mencapai keseimbangan yang stabil terdiri dari tiga individu dominan dengan satu individu resesif setelah beberapa generasi saling kawin (intermating). Hardy di Inggris dan Weinberg di Jerman membuktikan kekeliruan teori ini dengan memperlihatkan bahwa frekuensi gen tidak tergantung pada keadaan dominan atau resesif tetapi dapat stabil dari suatu generasi ke generasi lainnya. Pandangan Hardy dan Weinberg ini menimbulkan suatu cabang ilmu baru yang disebut genetika populasi (Crowder, 2006).

SELEKSI TANAMAN INDUK KAKAO (Theobroma cacao)

SELEKSI TANAMAN INDUK KAKAO (Theobroma cacao)


I.     PENDAHULUAN
A.  Latar belakang
Salah satu usaha perbaikan suatu tanaman adalah dengan melakukan seleksi pada suatu populasi dengan keragaman genetik cukup tinggi. Apabila suatu karakter memiliki keragaman genetik cukup tinggi, maka setiap individu dalam populasi hasilnya akan tinggi pula, sehingga seleksi akan lebih mudah untuk mendapatkan sifat-sifat yang diinginkan. Oleh sebab itu, informasi keragaman genetik sangat diperlukan untuk memperoleh varietas baru yang diharapkan (Helyanto et al., 2000).
Metode seleksi merupakan proses yang efektif untuk memperoleh sifat–sifat yang dianggap sangat penting dan tingkat keberhasilannya tinggi (Zasno, 1992). Untuk mencapai tujuan seleksi, harus diketahui antar karakter agronomi, komponen hasil dan hasil, sehingga seleksi terhadap satu karakter atau lebih dapat dilakukan (Zen, 1995).  

SELEKSI KETAHANAN TANAMAN TOMAT (Lycopersicum esculentum) TERHADAP NEMATODA

SELEKSI KETAHANAN TANAMAN TOMAT (Lycopersicum esculentum) TERHADAP NEMATODA

I.         PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Buah tomat saat ini merupakan salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi dan masih memerlukan penanganan serius, terutama dalam hal peningkatan hasilnya dan kualitas buahnya. Apabila dilihat dari rata-rata produksinya, ternyata tomat di Indonesia masih rendah, yaitu 6,3 ton/ha jika dibandingkan dengan negara-negara Taiwan, Saudi Arabia dan India yang berturut-turut 21 ton/ha, 13,4 ton/ha dan 9,5 ton/ha (Kartapradja dan Djuariah, 1992). Rendahnya produksi tomat di Indonesia kemungkinan disebabkan varietas yang ditanam tidak cocok, kultur teknis yang kurang baik atau pemberantasan hama/penyakit yang kurang efisien.

PENYARINGAN KETAHANAN KEKERINGAN PADA TANAMAN PADI (Oryza sativa)

PENYARINGAN KETAHANAN KEKERINGAN PADA TANAMAN PADI
(Oryza sativa)

  1. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pembatasan ekspor beras oleh negara-negara produsen seperti Vietnam, Thailand, dan India akibat pengaruh perubahan iklim agar kebutuhan pangan di negaranya tercukupi. Memunculkan berbagai usaha untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri Indonesia melalui berbagai cara, salah satunya dengan cara ekstensifikasi pertanian. Langkah tersebut dapat ditempuh dengan pemanfaatan lahan kering yang cukup luas dan belum termanfaatkan secara optimal. Akan tetapi masalahnya adalah kurangnya macam varietas padi yang dapat dikembangkan di lahan tersebut akibat cekaman kekeringan.