Selasa, 08 Januari 2013

Jambu Dipa, Legenda yang Hampir Punah

BEGITU memasuki Desa Jambu Dipa yang terletak di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, hamparan sawah terlihat hampir di setiap jengkal tanah. Tanaman padi yang tumbuh di areal persawahan itu terlihat subur dengan pengairan yang memadai.

Bagi warga desa tersebut, tanah adalah berkah Tuhan yang tak pernah henti mereka syukuri. Hampir setiap jengkal tanah di daerah itu luput dari bencana kekeringan tahunan. Sumber mata air yang keluar dari kaki Gunung Gede seakan tiada habisnya mengairi areal persawahan di desa tersebut.

Kesuburan tanah di daerah itu membuat Desa Jambu Dipa dikenal sebagai sentra produksi padi pandanwangi. Menurut Burhan, sejak dulu orang mengenal Jambu Dipa sebagai penghasil beras asli pandanwangi yang baunya harum dan rasanya enak. "Dulu orang suka bilang beras Jambu Dipa untuk membedakan beras pandanwangi produksi desa ini dengan beras pandanwangi produksi daerah lain di Cianjur. Karena memang rasanya lebih enak dibandingkan yang lain," tuturnya.

Selasa, 18 Desember 2012

makalah DPKP Alat Peraga


I.                PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Kelompok tani secara tidak langsung dapat dipergunakan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan produktivitas usaha tani melalui pengelolaan usaha tani secara bersamaan. Kelompok tani juga digunakan sebagai media belajar organisasi dan kerjasama antar petani. Dengan adanya kelompok tani, para petani dapat bersama-sama memecahkan permasalahan yang antara lain berupa pemenuhan sarana produksi pertanian, teknis produksi dan pemasaran hasil.
Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan permasalahan dalam berusaha tani dilaksanakan oleh kelompok secara bersamaan. Melihat potensi tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih lanjut agar dapat berkembang secara optimal.
Salah satu kelompok tani yang ada di Yogyakarta adalah kelompok tani “Sri Rejeki”. Kelompok tani ini terletak di Desa Patukan, Ambar Ketawang Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kelompok tani ini berdiri sekitar tahun 1970-an. Jumlah seluruh anggota dari kelompok tani ini adalah 10 orang tetapi yang aktif ada 8 orang. Susunan kepengurusan dari kelompok tani Bangun Tani ini adalah sebagai berikut:
Ketua                           : alm. Sadiman
Bendahara                   :  Rahmat
Sekretaris                    :  Sarjiyo
               Prestasi yang pernah diperoleh kelompok tani Sri Rejeki ini adalah hasil ubinan (tanaman padi) di kelompok tani ini paling unggul selama beberapa tahun berturut-turut.Kegiatan dari kelompok tani ini adalah pertemuan rutin setiap sebulan sekali. Kegiatan yang dilakukan adalah arisan kelompok tani, pertemuan rutin setiap sebulan sekali untuk melaporakan tentang kegiatan pertaniannya, pertemuan mendadak yang kondisional, sesuai dengan keadaan yang dialami di lapangan misalnya masalah pengairan, penentuan penggunaan bibit, musyawarah dan penentuan musim tanam dan sebagainya.
B.      Tujuan

SAHABAT-SAHABATKU

CANDI BOROBUDUR

PANTAI PARANGTRITIS

FOTO BOX

Selasa, 23 Oktober 2012

Makanan Khas Cianjur dengan Penuh Aroma Sedap dan Cita Rasa yang Lezat





Awal makanan tauco di Cianjur diperkirakan pada tahun 1880. Waktu itu, Tan Ken Yan untuk pertama kalinya mencetuskan ide pendirian industri tauco. Ide ini didasarkan pada tingginya minat masyarakat terhadap makanan tauco dan tauco sering digunakan masyarakat sebagai penyedap dalam masakan daging, ikan, sayuran, serta sambal . Industri tauco pertama di Cianjur adalah Industri Tauco Cap Meong yang didirikan oleh Tan Ken Yan tahun 1880. Pendirian industri ini didasarkan pada tingginya minat pasar terhadap makanan tauco serta menjaga warisan leluhur.

Sabtu, 20 Oktober 2012

PERANAN KELOMPOK TANI DALAM MEMASYARAKATKAN TEKNOLOGI PERTANIAN DI INDONESIA


A. PENDAHULUAN
Perkembangan kelompok tani di Indonesia telah lama ada sebagai lembaga komunikasi antar petani dalam menjalankan aktifitasnya. Secara teoritis kelompok tani diartikan sebagai kumpulan petani yang terikat secara informal atas dasar kepentingan dan keserasian bersama dalam usaha tani.  Kementerian Pertanian mendefinisikan kelompok tani sebagai kelompok petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Idealnya, kelompok tani dibentuk oleh dan untuk petani, guna mengatasi masalah bersama dalam usaha tani serta menguatkan usaha tawar petani, baik dalam pasar sarana maupun dalam pasar produk pertanian. Organisasinya bersifat non-formal namun sangat kuat, karena dilandasi kesadaran bersama dan azas kekeluargaan (Anonimus, 2009).­­