1. Mengetahui prinsip-prinsip dasar
perbanyakan tanaman secara vegetatif
2. Mengusai teknik-teknik
perbanyakan tanaman secara vegetatif
II. TINJAUAN PUSTAKA
Perbanyakan
tanaman dalam dunia pertanian dapat dilakuakan dengan dua cara yaitu secara
generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif merupakan perbanyakan tanaman
menggunakan biji, dimana biji merupakan hasil peleburan dari gamet jantan dan
gamet betina. Sedangkan perbanyakan tanaman secara vegetatif dapat dilakukan
dengan menggunakan bagian tanaman. Perbanyakan vegetatif sendiri dibedakan
menjadi dua cara, yaitu perbanyakan vegetatif alami dan perbanyakan buatan
(Martin, 2000).
Situs Gunung Padang di Kampung Gunung Padang dan Kampung Panggulan,
Desa Karyamukti Kecamatan Campaka, Cianjur, merupakan situs megalitik
berbentuk punden berundak yang terbesar di Asia Tenggara. Ini mengingat
luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m2 dengan luas areal situs
sendiri kurang lebih sekitar 3 ha.
BEGITU memasuki Desa Jambu Dipa yang terletak di Kecamatan
Warungkondang, Kabupaten Cianjur, hamparan sawah terlihat hampir di
setiap jengkal tanah. Tanaman padi yang tumbuh di areal persawahan itu
terlihat subur dengan pengairan yang memadai.
Bagi warga desa tersebut, tanah adalah berkah Tuhan yang tak pernah
henti mereka syukuri. Hampir setiap jengkal tanah di daerah itu luput
dari bencana kekeringan tahunan. Sumber mata air yang keluar dari kaki
Gunung Gede seakan tiada habisnya mengairi areal persawahan di desa
tersebut.
Kesuburan tanah di daerah itu membuat Desa Jambu Dipa dikenal sebagai
sentra produksi padi pandanwangi. Menurut Burhan, sejak dulu orang
mengenal Jambu Dipa sebagai penghasil beras asli pandanwangi yang
baunya harum dan rasanya enak. "Dulu orang suka bilang beras Jambu Dipa
untuk membedakan beras pandanwangi produksi desa ini dengan beras
pandanwangi produksi daerah lain di Cianjur. Karena memang rasanya
lebih enak dibandingkan yang lain," tuturnya.
Kelompok tani secara
tidak langsung dapat dipergunakan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan
produktivitas usaha tani melalui pengelolaan usaha tani secara bersamaan.
Kelompok tani juga digunakan sebagai media belajar organisasi dan kerjasama
antar petani. Dengan adanya kelompok tani, para petani dapat bersama-sama
memecahkan permasalahan yang antara lain berupa pemenuhan sarana produksi
pertanian, teknis produksi dan pemasaran hasil.
Kelompok
tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai peranan
yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan
permasalahan dalam berusaha tani dilaksanakan oleh kelompok secara bersamaan.
Melihat potensi tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih
lanjut agar dapat berkembang secara optimal.
Salah
satu kelompok tani yang ada di Yogyakarta adalah kelompok tani “Sri Rejeki”.
Kelompok tani ini terletak di Desa Patukan, Ambar Ketawang Kecamatan Gamping,
Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kelompok tani ini berdiri sekitar tahun 1970-an.
Jumlah seluruh anggota dari kelompok tani ini adalah 10 orang tetapi yang aktif
ada 8 orang. Susunan kepengurusan dari kelompok tani Bangun Tani ini adalah
sebagai berikut:
Ketua
: alm. Sadiman
Bendahara : Rahmat
Sekretaris
: Sarjiyo
Prestasi yang pernah diperoleh
kelompok tani Sri Rejeki ini adalah hasil ubinan (tanaman padi) di kelompok
tani ini paling unggul selama beberapa tahun berturut-turut.Kegiatan dari
kelompok tani ini adalah pertemuan rutin setiap sebulan sekali. Kegiatan yang
dilakukan adalah arisan kelompok tani, pertemuan rutin setiap sebulan sekali
untuk melaporakan tentang kegiatan pertaniannya, pertemuan mendadak yang
kondisional, sesuai dengan keadaan yang dialami di lapangan misalnya masalah
pengairan, penentuan penggunaan bibit, musyawarah dan penentuan musim tanam dan
sebagainya.